Tokoh Siak Sependapat Dengan Sarwan Hamid, Pemimpin Bukan Harus Orang Tempatan



   SIAK :RIAUNET.COM~Menjelang pelaksanaan Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, kerap menjadi momentum berkembangnya isu hegemoni suku, agama, ras dan antar golongan (SARA). Khususnya di Kabupaten Siak, isu itu cukup santer adanya, dan dinilai sebagai sarana melumpuhkan lawan yang dinilai bukan sebagai putra daerah atau bukan orang tempatan.

   Menyikapi santernya isu Hegemoni dan SARA tersebut, Tokoh masyarakat Siak, Tengku Mukhtar Hanum yang juga Ketua Resam Kekerabatan Kerajaan Siak mengaku sependapat dengan apa yang disampaikan Tokoh Nasional dari Riau, H Sarwan Hamid yang menegaskan bahwa untuk maju di Pilkada, tidak lagi harus berpandangan bahwa mereka harus anak tempatan.

   "Benar kata Pak Sarwan Hamid, bahwa Pemimpin daerah ke depan haruslah orang yang punya komitmen untuk membangun dan memajukan daerahnya. Bukan mendahulukan membangun golongannya, dan justru mengabaikan kemajuan daerah," ujar Mukhtar Hanum kepada Wartawan, Jumat (31/7/2015).

   Pernyataan Sarwan Hamid sebagai mana dirilis salah satu media terbitan Pekanbaru tersebut, menjadi perbincangan hangat. Apalagi isu hegemoni kedaerahan dan kesukuan cukup membuat salah satu bakal calon Bupati Siak, Suhartono yang bersuku Jawa, merasa disudutkan. Padahal ia mengaku merupakan Warga Kabupaten Siak, yang hidup dan berkiprah dalam andilnya membangun Kabupaten Siak. Dan itu dibuktikannya, selama menjadi anggota DPRD Siak dalam tiga periode, sejak tahun 2004 lalu.

   Pernyataan Tengku Mukhtar Hanum tersebut juga mendapat dukungan salah seorang budayawan Siak, Wan Abdurrahman.

   Disebutkannya, Sarwan Hamid merupakan putra Riau yang lahir di Pusako Kabupaten Siak, dan menjadi tokoh nasional, dan pernah menjabat Menteri Dalam Negeri dimasa pemerintahan Suharto dan Abdurrahman Wahid. Jadi apa yang menjadi gambaran kepemimpinan di daerah tersebut, khususnya Siak tentunya diungkapkan berdasarkan analisa yang mendalam.

   "Apa yang menjadi pernyataan yang kita pahami sebagai petuah dan pesan itu, tentu gambaran bagi masyarakat Siak, yang memang terdiri dari berbagai suku bangsa di nusantara, bahwa siapapun calon yang maju selagi dia berkomitmen tinggi memajukan Siak, maka perlu didukung. Jadi tidak lagi harus mengedepankan hegemoni kesukuannya," tandas Wan Abudrrahman.

   Dinilai Wan Abdurrahman, pernyataan Sarwan Hamid tersebut, juga mementahkan warkah yang pernah dikeluarkan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), yang mengharuskan pemimpin di Siak haruslah bersuku Melayu.

   "Soal suku, sebenarnya tidak harus ditonjolkan. Karena kita ingin mencari pemimpin yang bisa mengayomi semua elemen yang ada, bukan orang yang ego sehingga tidak menerima masukan," tandas Wan Abdurrahman.

   Pemimpin yang mengedepankan golongannya, tidak layak memimpin di Siak. Karena Siak memiliki masyarakat heterogen, terdiri berbagai suku bangsa dancerminan budaya nusantara. Namun demikian sebagai negeri Melayu, budaya Melayu menjadi pelopor dan dapat membingkai budaya nusantara yang ada. Hal ini sebagai cerminan, heterogenitas yang memang harus diakui, itu ada di Kabupaten Siak.

   "Salah satu bukti, kepemimpinan yang mengedepankan golongan, maka dia akan ditinggalkan golongan lainnya. Hal sama terjadi di Partai," tandas Wan Abdurrahman(***).

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!