Kabut Asap Sebagai Ajang Pembodohan



Pekanbaru : RIAUNET.COM - "Kabut Asap" memang bukan baru tahun ini saja terjadi. Kabut Asap sudah menjadi seperti budaya tahunan yang harus ada yang tidak boleh ditiadakan.

Pernyataan ini saya fikir cukup relevan mengingat hal sepele semacam ini yang tidak bisa dihentikan oleh penguasa besar yaitu pemerintah.

Pemerintah berdalih segala upaya sudah dilakukan. Seolah-olah ini adalah bencana alam yang tidak bisa dihindarkan. Ingat pepatah "tidak ada asap kalau tidak ada api", jadi menurut saya alibi seperti ini sangatlah menggelikan.

Tahun lalu (2014) saat kita juga dilanda Kabut Asap gubernur Riau Annas Maamun mengatakan bahwa pemerintah daerah sudah pasrah dengan keadaan Kabut Asap yang melanda Provinsi Riau. Anas juga pada waktu itu mengajak rakyat untuk menyerahkan diri kepada Allah. Ajakan ini menandakan bahwa ia menganggap semua usaha akan sia-sia. Beberapa hari berselang, saat pemerintah mengambil-alih penanganan pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Riau, Asap pun secara perlahan menghilang. Lalu pada waktu itu saya menulis disebuah laman "Asap hilang pukulan telak buat Atuk" sebagai bentuk bantahan pernyataan Anas Maamun beberapa hari sebelumnya.

Kini ditahun 2015, setelah pernyataan bodoh yang dikeluarkan pemerintah Riau pada 2014 yang lalu, muncul lagi pernyataan serupa namun kali ini pemerintah (pusat) yang mengatakannya. Mereka berdalih seolah-olah Kabut Asap yang terjadi saat ini tidak lagi bisa dihentikan.  Bukannya belajar dari pengalaman, pemerintah malah mengulangi kebodohan. Miris sekali.
Kabut Asap adalah "Ajang Pembodohan". Pernyataan yang mengatakan seolah-olah Kabut Asap ini adalah bencana alam yang tidak bisa dihindarkan adalah salah satu contohnya.
Hutan dan Lahan yang dibakar oleh oknum tak bertanggungjawab, bagaimana mungkin itu dikatakan bencana? Aneh!

Cita-cita negara kita untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa" bagaimana mungkin akan terwujud kalau tabir kebenaran selalu ditutup oleh pemangku kekuasaan? Cita-cita negara itu bagaimana akan terwujud kalau pada kenyataannya hari-hari untuk belajar diliburkan karena Kabut Asap?
Sekedar mengingatkan bahwa tujuan belajar adalah untuk kecerdasan, lalu bagaimana anak bangsa ini akan menjadi cerdas kalau sekolah lebih banyak libur nya daripada masuknya? Inilah yang terjadi dibeberapa daerah di negara ini (khususnya di riau). Dua bulan terakhir anak-anak sekolah lebih banyak libur daripada sekolah. 

Malang nian Nasib-mu anak bangsa. Hanya karena ulah segelintir kaum borjuis, kini kau menderita kebodohan yang tentu tidak kau inginkan.

Tapi sudahlah, jangan salahkan siapa. Salahkan saja orangtua-mu, abang dan kakak-mu serta sanak kerabat-mu yang lebih memilih wayang ketimbang dalang.
Ingat, Wayang yang selalu tampil dipanggung pertunjukan tidak akan bisa berbuat apa-apa keculai atas kehendak dalangnya. Begitulah perumpamaan bagi pemerintahan boneka yang selalu dikangkangi oleh para kaum kapitalis.
Wayang itu harus segera menjelma menjadi Dalang yang bisa mengatasi masalah Kabut Asap yang kita rasakan selama ini. Saya berharap kita tidak lagi akan merasakan siksaan pembodohan yang mengatakan seolah-olah ini adalah kehendak alam yang membuat kita tidak dapat bersekolah seperti sehari-hari.

Penulis : SORi


About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!