(OPINI) MASIHKAH KAUM INTELEKTUAL ITU BERFIKIR ?

Pekanbaru : RIAUNET.COM - Kaum Intelektual dipandang sebagai kaum yang telah menempuh pendidikan tinggi. Mahasiswa, mereka-lah yang biasanya disebut sebagai kaum Intelektual.
Kata orang, kaum Intelektual itu adalah kaum pemikir. Berpikir untuk sesuatu yang dilakukannya. Berpikir secara matang dengan pertimbangan-pertimbangan yang juga selalu matang agar dapat bertindak secara matang untuk mendapatkan hasil yang juga matang.
Tapi, benarkah kaum Intelektual saat ini masih bisa berfikir secara matang dalam setiap tindakannya?

Mahasiswa sebagai kaum Intelektual (pemikir) merupakan "agent of change and control social". Dengan status tersebut semestinya mereka harus-lah melakukan fungsinya itu dengan pemikiran-pemikiran cerdas dan konsep-konsep yang matang agar fungsinya itu benar-benar bermanfaat bagi kehidupan sosial.

Bertindak melakukan perubahan-perubahan kehidupan yang lebih baik. Memberikan pengawasan sosial dengan sebenar-benarnya agar bermanfaat bagi masyarakat. Benarkah ini sudah dilakukan oleh kaum Intelektual saat ini? Entahlah!

Sebagai agen perubahan sepertinya fungsi ini sangat jarang kita dengar dilakukan oleh kaum Intelektual kekinian. Semboyan-semboyan yang selama ini didengungkan oleh kaum Intelektual selalu saja mengatakan diri mereka sebagai generasi penerus. Padahal banyak permasalahan-permasalahan yang terjadi di kehidupan sosial. Apakah permasalahan-permasalahan ini akan diteruskan oleh generasi penerus?.
Sebagai kaum Intelektual semestinya tidak cukup hanya sebagai penerus namun juga dia harus sebagai generasi pelurus. Kehidupan-kehidupan sosial yang menyimpang harusnya itu diluruskan oleh kaum Intelektual sedangkan kehidupan-kehidupan sosial yang nyatanya masih lurus-lurus saja haruslah diteruskan. Inilah maknanya kaum intelektual sebagai generasi Penerus dan Pelurus. Berfikir-lah!

Sebagai pengawas (kontrol sosial) memang sangat sering kita lihat dan kita dengar dilakukan oleh kaum Intelektual. Kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masyarakat seringkali mereka kontrol, seringkali mereka kritisi dengan lantang. Luar biasa!
Tapi apakah hal itu benar-benar dilakukan dengan konsisten sampai pada hasil akhir yang memuaskan?

Kritisi kebijakan pemerintah, somasi pemerintah, lakukan aksi dan sebagainya sangat sering statemen mereka kita lihat dan kita baca.
Dulu saat pemerintah akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak, Mahasiswa seluruh negeri ini melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sempat menyatakan akan melakukan aksi untuk menuntut Presiden Joko Widodo agar turun dari jabatannya. Luar biasa sekali. Nyatanya apa? Hanya dengan jamuan makan malam, "Harga BBM Naik, Presiden Aman-Aman Saja".

Yang terbaru terjadi di Provinsi Riau. Saat menduduki kantor Gubernur Riau karena tuntutan mereka agar masalah asap tidak terus terulang setiap tahunnya, mereka dengan lantang mengatakan Gubernur harus menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan rakyat riau. Namun Gubernur dengan diplomatis mengatakan akan mempelajari isi tuntutan tersebut terlebih dahulu sebelum menandatanganinya. Mereka menyepakati permintaan itu namun dengan ancaman akan melakukan aksi lanjutan yang lebih besar jika gubernur tidak mau menandatangani tuntutan mereka. Kritis sekali ini. Mulia sekali mereka ini.

Nyatanya? Sampai saat ini gubernur tidak berkenan menandatanganinya dan aksi lanjutan seperti ancaman yang mereka lontarkan sebelumnya sampai sekarang tidak ada mereka lakukan. Inkonsistensi!

Kalau seperti ini yang dilakukan oleh mereka (Kaum Intelektual), apakah itu bisa dikatakan sebagai kaum pemikir? Menyedihkan Sekali!!!

Penulis : SORi
Tanggal : 9 Oktober 2015

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!