Begini Bahaya Jika Lahan Gambut Dirusak Untuk Buka Perkebunan Sawit

Jakarta~Universitas Gadjah Mada (UGM) memberikan solusi untuk pengelolaan lahan gambut yang seringkali menjadi salah satu pemicu kebakaran lahan dan hutan. Rupanya ada beberapa fakta yang selama ini jarang diungkap ke publik.

"Kalau bicara tentang gambut, gambut itu di rawa dan tumbuh di tropis dari sisa-sisa tanaman hutan, kayu yang roboh kemudian proses penguraiannya tidak sempurna karena tergenang air. Lama-lama dia numpuk. Nah, tumpukan ini yang kita kenal bahwa gambut itu punya kubah. Kubah ini mempunyai simpanan air sangat besar," tutur Profesor ahli gambut UGM Azwar Maas di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2015).

  Ketika kondisi kubah terjaga kelestariannya, maka lahan gambut tak akan mudah terbakar meski dilanda kemarau sekali pun. Jarak antara puncak kubah dengan permukaan tanah juga tak terlalu jauh, sehingga semestinya mudah menyerap air bila musim penghujan tiba.

  "Kubah itu ada di atas, kemudian di kaki kubah itu nanti ada 2 sungai. Sekarang ini kita harus ketahui jarak vertikal kubah mungkin hanya tidak sampai 20 meter. Tapi jarak horisontalnya ke sungai itu sampai lebih dari 40 kilometer," imbuh Azwar.

  Dia kemudian mengilustrasikan kalau ada 3 meter kubah itu dikonservasi maka akan tersimpan air setara dengan 1 tahun hujan atau sekitar 2.700 milimeter. Tetapi masalah yang muncul kini adalah saat kondisi kering, kubah gambut malah dicacah hingga rusak.

  Salah satu cara untuk menyelamatkan kubah gambut yakni dengan menjaga agar tidak kering. Selain itu saluran yang langsung terhubung ke sungai juga harus ditutup agar air tak mengalir ke sungai.

  Lalu, siapakah yang mencacah lahan gambut? Benarkah akibat pembukaan lahan sawit?

  "Sawit syarat budidayanya perakarannya harus dalam. Kalau 40 cm pasti mati sawitnya, kalau banyak airnya pasti mati tanamannya. Begitu. (Kalau) didiamkan saja, pohonnya roboh," jawab Menteri LHK Siti Nurbaya.

  Dia tak secara langsung menyalahkan kebun sawit, hanya menggambarkan fakta budidaya tanaman itu. Tentu saja ada sanksi hukum nantinya bagi pengusaha yang secara sengaja merusak puncak gambut.

  "Kita segera atur, yang pasti akan ada zonasi, lindung dan budidaya. Konsesi yang ada di zona lindung, memang kita harus hitung kompensasinya seperti apa. Oleh sebab itu kita harus konsultasi dengan ahli hukum tata negara karena disitu ada asas konstitusional. Nanti diatur, yang pasti di aturan yang tinggi harus ditegaskan bahwa gambut ini harus dilindungi," tutur Siti.

  Profesor Kehutanan UGM Oka Karyanto menambahkan mengenai pentingnya mengantisipasi kerusakan yang sama di wilayah Indonesia bagian timur. Bahkan saat ini wilayah Papua sudah mulai tampak titik panas.

  UGM juga menawarkan solusi berupa rekayasa sosial. Sehingga masyarakat juga harus dilibatkan untuk melestarikan lahan gambut.

  "Yang selama ini salah harus kita benahi. Hubungan pusat dan daerah yang selama ini salah dalam penanggulangan bencana juga akan kita benahi," ujar sosiolog UGM Arie Sujito yang juga tergabung dalam kelompok kerja gambut. (dtk)

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!