Ini Perjuangan 8 Orang Guru SLB Di Kepulauan Meranti

Meranti : RIAUNET.COM ~ Perjuangan 8 guru Sekolah Luar Biasa (SLB) di Desa Anak Setatah Kecamatan Rangsang Barat Kepulauan Meranti,  sangat keras dalam mencoba memberi ilmu kepada 28 siswa (anak berkebutuhan khusus. Meski sudah lebih 1 tahun tidak ada gaji, namun semangat mereka tidak pernah luntur. 

Syafrizal, SLB yang terletak di Desa Anak Setatah ini sebelumnya merupakan lokal jauh dari SLB Negeri Selatpanjang. SLB ini terbentuk pada tanggal 1 September 2014 yang lalu. Menumpang di gedung MDTA Darussalam Anak Setatah dan belajar setiap pagi hari. 

Waktu pertama kali dibuka, SLB lokal jauh ini memiliki 7 guru diantaranya Yumita SPd, Hendrizan, Zupen Heri, Suryana, Tuti Harsini, Siti Khairunnisa, dan Safrizal, serta Kepala SLB Negeri Selatpanjang Saring SPd.  Kepala SLB Negeri Selatpanjang, Saring SPd, sempat berjanji akan membayar gaji guru Rp400 ribu perbulan. Waktu itu pula, Saring juga menjanjikan membelikan peralatan sekolah untuk siswa, dan membantu uang transportasi untuk orang tua siswa ,"katanya kamis (26/11/2015). 

Lanjut dia,Uang ini rencananya diberikan kepada orang tua siswa setiap tahunnya. 

Setelah seminggu terbentuk, Saring memberikan buku untuk SLB ini ,buku tulis sebanyak 3 lusin serta alat tulis dua kotak. 

Rupanya, harapan yang diberikan sejak awal tidak sesuai kenyataan. 4 bulan setelah SLB lokal jauh ini dibuka, apa yang menjadi hak guru tidak pernah dapat. Guru-guru pun sudah mengeluh tentang honor yang dijanjikan Rp400 ribu perbulan itu. 

"Janji awalnya guru akan dibantu Rp400 ribu perbulan," kata Syafrizal. 

Setelah mendengar keluhan itu, enam bulan sejak terbentuk, Syafrizal berinisiatif menemui Saring di Selatpanjang. Dari pembicaraan itulah Saring mengatakan bahwa dia sudah tidak bisa mengelola SLB lokal jauh di Anak Setatah. 

"Dia  tidak mau mengurus lokal jauh ini. Katanya, kalau mau dikelola silahkan saja," ujar Syafrizal. 

Merasa kasihan sama anak didik, dan sayang rasanya andai SLB itu ditutup, akhirnya Syafrizal berdiskusi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Meranti. 

Kata Syafrizal, waktu itu pihak Disdikbud Meranti mengatakan bahwa mereka tidak bisa berbuat banyak jika SLB itu masih menjadi lokal jauh. 

Mereka juga menyarankan agar SLB lokal jauh melepaskan diri dari SLB negeri Selatpanjang. 
Barulah tanggal 10 Januari 2015, Saring menyatakan bersedia melepaskan SLB lokal jauh tersebut. Saring menyatakan tidak akan menuntut hal apapun dari SLB yang dilengkapi dengan materai 6000. 

"Setelah lepas dari SLB negeri, saya kembali ke Disdikbud. Mereka meminta kita mendirikan yayasan untuk SLB di Anak Setatah," kata Syafrizal. (Hws)

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!