Kelompok Usaha Mie Sagu Kepulauan Meranti (Riau) Terkendala Pemasaran

Meranti:RIAUNET.COM~Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, terkenal dengan melimpahnya hasil Sagu. Mulai dari sagu mentah hingga sagu yang sudah diolah.

Dalam pengembanganya, kelompok usaha kecil di Kabupaten Bungsu di Riau itu tetap terus bergeliat agar produksi pangan lokal bisa menembus ke luar daerah. Sayangnya, upaya itu belum terwujud bagi kelompok usaha Mie Sagu Maju Bersama di Desa Banglas, Kecamatan Tebingtinggi.

Menurut salah seorang tenaga kerja pengolahannya (kelompok usaha Mie Sagu Maju Bersama,) Andi (25), kelompok usaha yang diketuai Anwar Ridwan itu memang sudah berdiri dan beroperasi sejak tahun 2000 silam (zaman Kabupaten Bengkalis, ). 

Namun dalam segi pemasaran, dia mengakui kelompok usaha tersebut masih dinilai lemah.

"Iya bang, kelemahan kami hanya pada pemasaran. Pasalnya, hingga saat ini masih dilakukan pada kawasan lokal saja (Meranti), seperti di kedai (warung) atau pasar yang selalu menjadi langganan kami," kata Andi, ketika ditemui belum lama ini di rumah kelompok usaha tempat dia bekerja kamis. 

Menurut dia pula, kelompok usaha mie sagu yang digandrunginya itu memiliki misi ingin mengekspor hingga keluar daerah. Namun, hal itu belum bisa terwujud dikarenakan salah satu kendala tidak memiliki izin peredaran ke kawasan luar daerah (luar wilayah Meranti).

"Paling jauh mie sagu kami hanya didistribusikan ke Batam dan Bangkinang. Itu pun hanya karena melalui pesanan orang, bukan pemasaran resmi," ucap dia.

Padahal, lanjut Andi, dalam sehari kelompok usaha Maju Bersama bisa memproduksi maksimal mencapai 200 Kg dan minimal 100 Kg mie sagu. Yakni dengan menggunakan alat rakitan sendiri dari mesin ampia pembuat kue.

"Memang, sebelumnya kami masih manual. Menggerakan mesin ampia dengan tangan. Tapi karena produksi semakin besar, kami sudah merombaknya dengan cara digabungkan dengan mesin berdaya listrik," ujar dia.

Hal senada juga dikatakan Kepala Desa Banglas, Samsurizal.Menurut dia, untuk melakukan pemasaran atau pengeksporan hingga keluar daerah itu, suatu usaha harus memiliki izin peredaran dan kelayakan kesehatan makanan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Sebab, secara aturan sudah ditetapkan oleh undang-undang.

"Dengan adanya perizinan makanan dari Kemenkes ini, otomatis makanan tradisional kita akan diterima oleh masyarakat luar. Apalagi dengan upaya ini kita juga mengangkat potensi sagu sebagai ikon Meranti ke luar daerah," ujar samsurizal kamis (31/12/2015).

Kendati demikian, dia berharap kerjasama kepada dinas terkait agar bisa membantu sebagaimana halnya produk olahan mie sagu ini bisa memiliki izin peredaran dan kelayakan kesehatan makanan. 

Sehingga, bisa membantu para Usaha Kecil Menengah (UKM) di Kepulauan Meranti.

"Kedepan, saya akan berkoordinasi untuk bekerjasama kepada stakeholder atau dinas terkait. Jika apa yang diharapkan itu terlaksanakan, minimal ini bisa menjadi pemicu terbukanya lapangan tenaga kerja dan mata pencaharian bagi masyarakat kecil," sebut dia.

Disamping itu, penyuluh dari Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kepulauan Meranti, Tommy, mengakui kalau pihaknya telah memberikan bantuan berupa 1 unit mesin pengolah mie sagu dan alat pembantu pengolahan lainnya kepada kelompok usaha Maju Bersama Desa Banglas tersebut. 

Menurut dia pula, bantuan itu tidak lain tidak bukan dalam rangka mengembangkan potensi pangan lokal.

"Tentunya ini dalam rangka membantu para pelaku usaha kecil untuk meningkatkan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan potensi pangan lokal," katanya.(ri)

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!