[OPINI] Malang Nian Nasibmu Pancasila-ku. Engkau Selalu Disosialisasikan Namun Tidak Pernah Diamalkan.

Saddam Orbusti Ritonga
Penulis:SADDAM ORBUSTI RITONGA
Rabu (1/6/2016)



Pekanbaru:Riaunet.com~Pancasila yang merupakan dasar negara kita, disusun dengan penuh kehati-hatian oleh para tokoh pendiri bangsa ini. Pada tahun 1945 beberapa tokoh bangsa yang kita sebut sebagai founding father berembuk untuk memikirkan bagaimana dan harus seperti apa bangsa ini dikemudian hari. Pemikiran–pemikiran mereka curahkan untuk mendapatkan formulasi terbaik yang akan kita jadikan sebagai dasar negara kita.

Dalam situasi yang rumit, kondisi yang sulit dan waktu yang sempit mereka selalu memikirkan bagaimana dan harus seperti apa bangsa ini dikemudian hari. 

Dari pemikiran–pemikiran besar mereka, lahirlah lima dasar yang sampai sekarang selalu kita anggap sebagai pemikiran yang brilian dari para pemikir besar bangsa ini. 

Pancasila yang selama ini kita katakan merupakan ideologi yang sangat bagus karena ia merupakan perpaduan dari dua ideologi besar yaitu Sosialis-Komunis dan Liberalis-Kapitalis, pada kenyataannya itu hanyalah ucapan belaka. 

Pancasila yang selama ini kita katakan sangat tepat untuk bangsa ini karena konsepnya yang melindungi seluruh suku–suku bangsa, namun lagi–lagi itu hanya ucapan belaka. Perkataan dan pernyataan itu tidaklah pernah kita iringi dengan perbuatan. Kita selalu berucap namun tidak pernah bertindak. 

Pancasila yang ditanamkan nilai–nilai ketuhanan nyatanya banyak sekali pelanggaran–pelanggaran syariat agama yang kita lakukan selama ini. 

Kita mengakui bahwa tuhan itu ada dan aturannya juga ada, namun kita selalu melalaikan aturan-Nya dan sering melupakan keberadaan-Nya. Bahkan yang lebih parah lagi, diantara kita sampai saat ini masih ada yang tidak mengakui adanya tuhan. Masih ada diantara kita yang tidak beragama. Lalu kalau demikian, apakah arti nilai – nilai ketuhanan itu? Yang lebih sadisnya lagi, ada issu yang muncul bahwa kolom agama pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) akan dihapuskan. Inilah bentuk pengamalan nilai–nilai ketuhanan itu. 

"Pancasila yang ditanamkan nilai–nilai keadilan dan keberadaban. Adil, benarkah bangsa ini sudah adil? 

Sepertinya makna Adil itu masih sangat jauh dari kenyataannya. Banyak sekali perlakuan–perlakuan tidak adil itu. Dengan masalah yang sama sebagian orang terlepas dari hukuman, namun sebagainnya lagi mendapatkan hukuman. Begitukah keadilan yang kita maksud. Bukankah kita tidak bisa menghukum seseorang yang orang lain bebas melakukannya? Nilai–nilai keberadaban, sudahkah beradab bangsa ini? Rasanya itu juga masih jauh dari harapan. Moral bangsa ini sudah jauh dari budaya ketimuran, kita sepertinya sudah kembali ke zaman purba yang bajunya compang camping dan kekurangan kain untuk menutupi tubuh kita. Sopan santun sudah mulai pudar, tutur kata sudah merata tidak lagi ada perbedaan mana kawan dan mana paman. 

Pancasila yang ditanamkan nilai–nilai persatuan sebangsa dan setanah air. Masihkah ada persatuan itu saat ini? 

Dimana–mana banyak pertikaian, dimana–mana banyak pemberontakan. Setiap daerah menganggap daerahnya yang terbaik, setiap suku menganggap sukunya yang terbaik, setiap agama menganggap agamanya yang paling benar dan lain sebagainya. Setiap daerah, suku, agama dan lainnya menunjukkan arogansinya masing-masing. Itukah yang dimaksudkan persatuan itu? 

Secara teritorial memang benar sampai saat ini indonesia masih sangat kokoh mempertahankan keutuhannya. Tapi apakah hanya keutuhan secara teritorial itu yang dimaksudkan? 

"Pancasila yang ditanamkan nilai–nilai kebijaksaan dalam musyawarah mufakat dan keterwakilan. Benarkah nilai–nilai itu sudah terlaksana? 

Sepertinya itu hanya masih dalam bentuk konsep saja. Musyawarah mufakat sepertinya sudah tidak ada lagi dibangsa ini. Perdebatan-perdebatan alot sering kali dipertontonkan oleh bangsa ini, kebijaksanaan dan sikap legowo sepertinya hanya segelintir orang saja yang memilikinya saat ini. Begitu juga dengan keterwakilan, sepertinya saat ini keterwakilan itu sudah tidak ada lagi. 

Setiap orang ramai–ramai mewakilkan dirinya sendiri dan melupakan saudaranya sesama rakyat indonesia. Kita hanya sibuk mengurusi periuk nasi sendiri bagaimana agar periuk itu bisa penuh tanpa pernah melihat dapur orang lain yang kosong melompong. Kita hanya sibuk menyampaikan argumen sendiri tanpa pernah mendengar keluhan orang lain. 
Begitukah keterwakilan yang kita maksudkan? 

"Pancasila yang ditanamkan nilai–nilai keadilan sosial, apakah itu sudah pernah terwujud? 

Coba kita lihat kesenjangan yang terjadi di bangsa ini, apakah kita berani mengatakan keadilan sosial itu telah terwujud? Kemiskinan merajalela, anak-anak terlantar dimana-mana tapi masih banyak pejabat kita yang senang berpoya-poya. Rakyat jelata menebang pohon untuk kayu bakar saja dipersalahkan, namun konglomerat yang menggunduli hutan ribuan hektar dibela mati-matian. Yang kaya semakin kaya, yang miskin begitu–begitu saja. Yang kaya selalu dilayani dengan senyum yang miskin selalu mendapatkan kerutan wajah para birokrat yang terhormat. 

"Begitulah nasibmu wahai Pancasila-ku. Engkau dibuat dengan harapan besar dari para pemikir–pemikir besar. Engkau dirumuskan dalam waktu yang sempit, dalam situasi yang rumit dan dalam kondisi yang serba sulit, namun dalam keadaan yang berbeda engkau tidak pernah dijalankan. Engkau selalu disanjung, namun nilai–nilaimu tidak pernah di junjung. Malang Nian Nasibmu Pancasila-ku, Engkau Selalu Disosialisasikan Namun Tidak Pernah Diamalkan. (rdk)

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!