[OPINI] Sampah Momok Baru Kota Pekanbaru

Penulis: Ibnu Arifin SH (Ketua Komisi Advokasi Dan Hukum DPP PPR Provinsi Riau), Rabu (8/6/2016)


Pekanbaru:Riaunet.com~Akhir-akhir ini sampah kota pekanbaru membeludak. Bukan karena banyaknya orang yang buang sampah sembarangan melainkan tunggakan gaji yang lambat dibayarkan oleh PT.MIG kepada pasukan kuning atau kebersihan selama 2 bulan. 

Mungkin anda semakin menyadari semakin hari maka semakin banyak sampah yang berserakan bahkan di jalan-jalan protokol penting kota pekanbaru. Silahkan anda coba berkeliling sendiri ke setiap jalan-jalan di kota pekanbaru.

Didalam undang-undang no. 18 tahun 2008 pasal 3 tentang pengolahan sampah menerangkan bahwa pengolahan sampah harus memenuhi asas keadilan,asas manfaat,asas tanggung jawab, asas berkelanjutan, asas kesadaraan, asas kebersamaan, asas keselamatan dan nilai ekonomi. 
Jadi banyak sekali asas yang sebenarnya belum mampu dipenuhi oleh kota pekanbaru madani ini. Walau butuh banyak pihak yang harus bahu membahu untuk menyelesaikan masalah sampah ini.

Kemudian pada bab 3 pasal 5 yang mana menjadi wewenang dan tugas pemerintah adalah menjamin pengolahan sampah yang baik sesuai dengan wawasan lingkungan hidup sesuai dengan undang-undang. 

Jelas pemerintah kota harus melihat lingkungan hidup sebagai sektor yang harus diperhitungkan. Tata letak tempat sampah dan lain sebagainya yang menyangkut undang-undang lingkungan hidup. 

Sampah masih menjadi masalah utama apalagi produksi sampah diKota Pekanbaru, kini mencapai 350 ton per hari sehingga pengelolaan sampah perlu dilakukan secara komprehensif dan terpadu.

"Dengan jumlah penduduk lebih dari satu juta jiwa itu, pengelolaan sampah belum maksimal kendati hanya didukung tiga TPS permanen dan satu unit TPA, dan sejumlah alat berat. 
Sampah plastik, botol, kertas dan kaleng minuman ringan, yang mempunyai nilai ekonomis bisa dikumpulkan untuk dijual ke pihak industri. 

Saatnya kini masyarakat daerah ini untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah selama ini yakni dikumpulkan diangkut, dibuang dan dibakar diganti dengan pendekatan lima R," katanya. 

"Pola lima R itu". 
Pola lima R itu yakni re-think (memikirkan), re-duce yakni membatasi mengurangi, re- use (memakai ulang) dan recovery (memperbaiki ) serta recycling atau daur ulang. 

Melalui daur ulang saja misalnya sampah bisa menjadi lahan emas yang dapat meningkatkan kesejahteraan hidup seperti membuat tempat tissu menggunakan bahan bekas bisa dijual. 

Namun demikian, yang paling penting adalah merubah pola pikir masyarakat jangan lagi menganggap sampah adalah barang kotor dan menjadi urusan pemerintah setelah dibuang. 

"Mari kita membangkitkan kesadaraan pemerintah dan warga terhadap ancaman ini karena jika tidak ditanggulangi maka akan berkibat fatal apalagi pekanbaru sudah mengkiblatkan namanya sebagai kota wisata dunia. Jangan sampai sampah ini akan menyebabkan penyakit dan banjir dikemudian hari. Semoga kedepannya masalah ini dapat teratasi. (rdk)

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!