Mahasiswa Fisifol UIR Kunjungi Kantor LAM Riau



Pekanbaru:Riaunet.com~Puluhan mahasiswa Fisipol Universitas Islam Riau (UIR) menyambangi kantor Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dijalan diponegoro Pekanbaru-Riau, Kamis (11/8/2016). Inisiasi silaturrahmi tersebut bertujuan untuk berdiskusi tentang seputar pengetahuan kemelayuan. 

Kedatangan Rombongan mahasiswa ini disambut langsung oleh Ketua Pengurus harian LAM Riau, yang berlangsung sejak pukul 14.00 wib hingga pukul 17.00 wib. 

Selain Mahasiswa, hadir pula dalam pertemuan tersebut, pengurus bidang kajian LAM Riau Drs. Auni mnur, Wakil dekan III fisipol UIR, Kasmanto Rinaldi, yang turut aktif berdiskusi dalam mengupas pemahaman tentang sejarah melayu dan fungsi LAM itu sendiri. 

Rombongan Mahasiswa yang dikomandoi Gubernur Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) Fisipol UIR itu menyebutkan apresiasinya kepada LAM yang dapat memberi ruang dengar pendapat antar kedua belah pihak. Kehadiran mahasiswa ke LAM itu merupakan keterwakilan organisatoris kampus Fisipol yang membawa nama lembaga BEM,HIMIP,HIMIA, dan HIMAKRI. 

"Indikator pertemuan itu kemudian diharapakan dapat memberi khazanah pengetahuan mahasiswa tentang kemelayuan untuk selanjutnya membangkitkan semangat mahasiswa dalam mempertahankan serta mengembangkan eksistensi budaya melayu. 

Subtansi yang dikupas dalam pertemuan itu juga menyinggung tentang sejauh mana peran pemerintah dalam menjaga dan mengembangkan eksistensi budaya melayu itu sendiri melalui kebijakan-kebijakannya. 

Dalam kesempatan itu Al-Azhar menjelaskan atas pertanyaan mahasiswa dan menerangkan bahwa LAM sendiri sebagai lembaga yang berbeda fungsinya dengan lembaga eksekutif mengalami kesulitan dalam mengeksekusi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi dalam konteks kemelayuan.

Seperti hal rendahnya prestasi riau dalam menginvetarisir kawasan budaya menjadi situs cagar budaya," Kata Azhar. 

Al-Azhar juga mengungkapkan kondisi Riau yang kian terpuruk dalam hiruk pikuk praktik ekonomi kapitalis yang kemudian mempengaruhi budaya masyarakat yang individualis, hedonis yang notabene nya bertentangan dengan nilai dan norma melayu itu sendiri. 

"LAM yang berperan sebagai penyeimbang modernisasi dan tradisi masa lalu membutuhkan masyarakat yang mencintai melayu, harapan itu ia taruh kepada Pemuda/mahasiswa yang mampu berperan sebagai inspirator," ujarnya. 

Rekomendasi dari hasil diskusi itu kemudian dikemas melalui komitmen kedua belah pihak untuk saling mendukung dalam konteks program, advokasi terkait gejolak sosial yang berkembang. 

Diantaranya perlunya keseriusan terkait pelaksanaan UU No 6 Th 2014 tentang pemerintah desa yang berisi muatan otonomi desa dalam mengembangkan desanya sebagai desa adat. Kendalanya yaitu belum adanya pedoman teknis tentang penyelenggaraan desa adat tersebut. 

Kemudian dikupas juga terkait dalam upaya memasifkan pengetahuan melayu di ranah pendidikan yang sejauh ini belum maksimal.

LAM sendiri telah merekomendasikan kurikulum muatan lokal ke pemerintah, yang insyaallah akan berjalan pada tahun ajaran 2017/2018 menjelang dikeluarkannya Payung hukum berupa Peraturan Gubernur (Pergub) tentang perda kurikulum tersebut. 

Diskusi alot yang berlangsung lebih dari 3 jam tersebut menyisakan keluhan bagi mahasiswa, pasalnya terbatasnya waktu untuk mengetahui wawasan kemelayuan yang langsung diketahui dari salah satu tokoh yang berwawasan mumpuni tentang melayu. 

Konteks pembahasan pun dinamis,  arah pembahasan mencoba menelisik permasalahan penting yang kian menjadi masalah yang berlarut, seperti karhutla, eksploitasi SDA Riau, dan krisis kepemimpinan riau. 

Menanggapi hal itu, mahasiswa menegaskan akan senantiasa menggiring kepemerintahan yang pro rakyat, sehingga Riau dapat berkiprah menata kepemerintahan yang relevan dengan tunjuk ajar dan budaya melayu. (rdk) 

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!