Flickr

Syamsuar Kunjungi Penggiat Dan Pengrajin Tanjak Di Pasar Seni Kesturi Siak

SIAK:Riaunet.com~Bupati Siak H. Syamsuar seolah menyimpan dendam tak sudah untuk membangkitkan kembali kecintaan masyarakat pada tradisi lama. Besarnya rasa cinta pada budaya melayu Riau diwujudkannya dengan inisiasinya pada gerakan “Siak Bertanjak”.

Penggunaan kembali salah satu simbol budaya melayu Riau ini mulai mewabah di tengah masyarakat. Orang nomor satu di Negeri Istana itupun tak dapat menyembunyikan rasa bangganya, kini penggunaan tanjak mulai digandrungi banyak kalangan, terutama generasi muda.

Sebagai bentuk dukungannya, Syamsuar didampingi sejumlah staf mengunjungi Pasar Seni Kesturi untuk bertemu para penggiat dan pengrajin tanjak disentra cinderamata Kabupaten Siak, Jumat (10/2/2017). Kehadiran orang nomor satu itu, dimaksudkan memberikan dukungan pada penggiat dan pengrajin tanjak tempatan.

Saat ditemui Syamsuar, punggawa Komunitas Tanjak Siak, Alwindra mengaku saat ini mereka sudah kewalahan meladeni pesanan tanjak yang membludak akhir-akhir ini. 

“Pesanan yang baru terpenuhi saat ini sudah mencapai 400 buah. Kami menyimpan cita-cita gerakan Siak Bertanjak ini nantinya mampu memecahkan rekor MURI, dengan capaian peserta bertanjak terbanyak di Indonesia,” Sebutnya.

Armand, seorang pengrajin produk tanjak urban ini mengaku mampu memproduksi 20 buah tanjak perhari. 

“Setiap harinya, begitu selesai diproduksi, barang langsung habis dipesan,” sebut dia yang sehari-hari disapa Adek ini.

Selain itu, Syamsuar memberikan juga dukungan dan memberikan masukan kepada pengrajin tanjak yang ditemuinya. 

“Pengemasan harus lebih baik, Pemkab akan bantu patenkan produk ini dengan merek Tanjak Siak, supaya orang-orang tau asalnya. Kalau mau cari tanjak yang asli, bolehlah datang ke Siak,” Ucapnya.

Oleh komunitas Tanjak Siak, Bupati juga dihadiahi tanjak khusus yang biasa dipakai bangsawan melayu, dengan Ikat Tanjak Dendam Tak Sudah. 
“Salam tanjak bukan nak melagak, tapi nak budayakan tanjak Siak,” ucap Syam melafalkan salam khas komunitas tanjak.

Tak itu saja, Datuk Setia Amanah itu juga spontan melontarkan ide terkait tradisi melayu lama lainnya, yaitu Festival Meriam Buluh Betung. Tradisi masyarakat melayu zaman dahulu itu kata dia akan digelar menjelang hari raya nanti agar suasana meriah.

“InsyaAllah suasananya akan meriah. Apalagi kalau nanti buluhnya diukir, peserta harus berpakaian melayu lengkap kopiah dan selempang. Kalau pandai bunyikan, pasti kuat. Kalau tidak, kekadang sejam tau penat meniup ajo, tapi bunyinyo cusss,” ucap Syamsuar yang disambut gelak tawa yang hadir di pasar seni tersebut.

Jelang konferensi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) yang berencana menjadikan Kota Siak Sri Indrapura sebagai lokasi pelaksanaan, dia juga mengajak komunitas tanjak untuk mensukseskan dan mengenalkan tradisi melayu kepada tamu yang akan datang.

Beliau bahkan juga ingin menunjukkan keindahan arsitektur Balairung Sri, yang dirancang oleh Almarhum Tengku Susido. 

“Konsep Waterfront City itu sebenarnya telah lama ada di Siak. Lihat saja kehebatan leluhur kita yang mampu membuat bangunan itu di masa 100 tahun yang lalu. Saya juga akan ajak tamu yang datang nanti ziarah ke makam arsiteknya di kampung tengah,” Imbuhnya. (rdk/hms)

About

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiawa Silahkan SMS ke nomor HP : 081371900107/ 0811707378/ BBM:28A13E78 atau email ke alamat : redaksiriaunet@gmail.com, Harap camtumkan detail data anda

Comments Now!

You can be first to comment this post!